A Man Called Otto (2022)
A Man Called Otto. Film terbaru Tom Hanks di tahun 2022 yang sepertinya tidak terlalu riuh kabarnya. Akhir pekan ini, saya ditemani oleh kisah hidup seorang Anderson Otto yang memberi banyak pelajaran berharga. Seorang lelaki yang baru enam bulan menyandang status duda karena ditinggal pergi selamanya oleh pasangan hidup yang memberikan warna di kehidupan hitam dan putihnya.
Pada awal film, ditampilkan adegan Otto sedang berbelanja di sebuah toko besar yang menjual segala peralatan pertukangan atau perlengkapan rumah, seperti Mitra10. Respon Otto terhadap ucapan sambutan promosi toko tersebut melalui pengeras suara langsung menarik perhatian saya. Saya merasa relate dengan celetukan yang pernah terucap bermuatan candaan saat berbelanja di sebuah pasar retail karena meninggalkan kesan berlebihan bagi saya. Tebakan awal saya, Otto bekerja dalam bidang pertukangan karena di toko tersebut dia membeli beberapa barang, seperti pengait dari besi dan tali tambang besar. Ternyata, saya salah. Saya bahkan dibuat tercengang karena barang-barang tersebut dibeli olehnya untuk mempersiapkan rencana bunuh diri.
Adegan demi adegan dipenuhi oleh sikap Otto yang kerap kali bermuatan negatif, orang-orang sekarang menyebutnya sebagai toxic people. Ya, sekilas dia memang terlihat seperti itu. Kita juga dapat membaca julukan yang disematkan pada poster film ini untuk karakter Otto yaitu the grumpiest man. Selalu saja ada hal sepele yang menjadi bermasalah menurut pandangannya sehingga membuatnya menggerutu tidak jelas. Otto juga terkesan menarik diri dari lingkungannya. Hal ini sepertinya menjadi sebuah kewajaran bagi orang-orang di sekitarnya untuk tidak menyukainya.
Suatu hari, Otto memiliki tetangga baru yang kehadirannya secara tidak disengaja membatalkan percobaannya kali pertama untuk bunuh diri. Tetangga barunya merupakan keluarga kecil yang membawa warna baru dalam hidup Otto setelah sang istri tercinta.
Long story short, peristiwa demi peristiwa dalam hidup Otto dibukakan di film ini. Pemantik-pemantik yang memicunya menjadi pribadi pemarah, dingin, dan acuh. Sebut saja, kematian sang Papa, istri tercinta dan calon anaknya, perselisihan dengan tetangga yang sudah bagai sahabat baginya, dan perlakuan dari para pemilik lahan tempat tinggalnya yang memperlakukannya dengan tidak adil. Respon Otto terhadap hal-hal tersebut mungkin terkesan wajar, akan tetapi benarkah begitu???
Jika dapat disebut kesialan, maka kesialan-kesialan dalam hidup Otto tampaknya tidak asing bagi kita. Kehilangan orang tercinta, perselisihan paham hingga rusaknya sebuah hubungan, perlakuan tidak adil dari orang-orang di sekitar, dan lain sebagainya. Lantas, bagaimana kita menyikapi kesialan-kesialan tersebut? Banyak hal terjadi dan kita alami di luar kendali. Kita tidak berkuasa atas hal-hal di luar kendali kita. Namun, kita dapat mengendalikan respon kita terhadap hal-hal tersebut. Itulah hal pertama yang saya dapatkan dari film ini.
Kedua, cara kita memandang permasalahan yang kita alami dapat menutup mata hati kita terhadap perhatian dari orang-orang di sekitar. Otto baru mengetahui bahwa Anita---istri dari salah satu tetangga yang juga merupakan sahabatnya---mengidap parkinson dan menyembunyikan kondisi tersebut karena tidak ingin menambah kesulitan dalam hidupnya. Jika kita membiarkan masalah menjadi pusat dalam hidup, maka kepekaan kita terhadap kebaikan bahkan kebutuhan orang-orang di sekitar akan tumpul. Kita akan menjadi orang yang egois dan apatis.
Kita selalu membutuhkan sesama karena diciptakan sebagai makhluk sosial. Setelah kematian sang istri, Otto antipati dengan orang-orang di sekitarnya sampai Marisol dan keluarganya perlahan memasuki kehidupan Otto dan secara tidak langsung menarik Otto keluar dari "tempat persembunyiannya". Mereka sempat mengalami perseteruan. Mekanisme pertahanan diri Otto terlihat saat dirinya berseteru dengan Marisol yang berusaha untuk menolongnya. Saya mencoba untuk memahami alasan di balik kemarahan Otto terhadap Marisol. Jika ada di posisi Otto, saya mungkin akan merasa tidak nyaman saat ada orang baru yang mencoba untuk "mengobrak-abrik" hidup saya; saya mungkin tidak terima masa kedukaan atas kematiaan orang yang saya cintai dicampuri; bahkan saya mungkin juga berpikir bahwa orang yang berusaha menolong saya saat itu tidak benar-benar ingin menolong. Pada tahap inilah hati kita diuji. Apa motivasi kita menolong sesama? Kemungkinan respon seperti Otto akan kita jumpai saat menolong orang karena tidak selalu niat baik disambut dengan baik. Siapkah kita jika ketulusan untuk menolong ditanggapi dengan penolakan? Bersediakah kita menerima atau meminta pertolongan dari orang lain sehingga dapat keluar dari permasalahan? Itulah hal ketiga yang saya dapatkan dari film ini.
Berikutnya, kehadiran tokoh Malcolm---yang adalah salah satu murid dari mendiang istri Otto---juga membawa warna bagi hidup Otto. Malcolm menceritakan kebaikan Sonya---istri Otto---yang menerima identitas barunya sebagai seorang transgender. Sanggupkah kita menerima orang lain tanpa memandang kekurangannya? Mampukah kita menahan diri untuk tidak menghakimi kondisi orang lain?
Hal terakhir yang saya pelajari dari film ini adalah kesepian merupakan kemiskinan yang paling miskin dan sebuah perasaan yang dapat kita kendalikan. Mulailah melihat sekelilingmu, hargai orang-orang di sekitarmu, perlakukan mereka dengan penuh kasih sayang dan ketulusan, dan bersyukurlah.

Komentar
Posting Komentar